Selamat Datang ,Dan Selamat Membaca, Enjoyy :)

Friday, 27 September 2013

Rockstar Bicarakan Seri Sekuel untuk Bully




bully

Tidak hanya menaungi Grand Theft Auto sebagai salah satu franchise game open-world paling populer di industri game, Rockstar juga dikenal lewat serangkaian produk lain dengan kualitas yang tidak kalah menariknya. Red Dead Redemption. Max Payne, dan L.A. Noire misalnya, sukses dari sisi penjualan dan tentu saja – berhasil menuai pujian. Di skala yang lebih “kecil”, Rockstar juga punya franchise yang tidak kalah menawan, menangkap esensi kebebasan gameplay dalam sebuah dunia yang kecil – sebuah atmosfer kenakalan remaja yang kental, Bully. Walaupun belum menunjukkan batang hidungnya, namun Rockstar tetap memperlihatkan ketertarikan yang mendalam pada franchise yang satu ini.

Dalam wawancara terkininya dengan situs gaming – Polygon, salah satu petinggi Rockstar – Dan Houser mengemukakan ketertarikannya untuk mengembangkan seri sekuel untuk Bully. Namun ia menyatakan tidak tertarik untuk mengimplementasikan beberapa ide “gila” gamer, termasuk mereka yang sempat menyarankan untuk memosisikan sang karakter utama – Jimmy Hopkins sebagai roda utama seri GTA di masa depan. Houser menyatakan bahwa terlepas dari kenakalan Jimmy, ia masih anak yang baik dengan masa depan yang terbuka lebar, tidak akan sampai menjerumuskannya ke level sedalam tindak kriminal di GTA. Terkait sekuel ini, Houser merasa ada begitu banyak arah baru yang bisa ia tempuh untuk membawa Bully kembali ke industri game. Kapan? Tidak ada detail ekstra apapun.

Rockstar membicarakan ketertarikan untuk membuat seri sekuel terbaru untuk Bully. Hanya saja tidak "segila" membawa sang karakter utama - Jimmy Hopkins sebagai roda utama GTA di masa depan.

Rockstar membicarakan ketertarikan untuk membuat seri sekuel terbaru untuk Bully. Hanya saja tidak “segila” membawa sang karakter utama – Jimmy Hopkins sebagai roda utama GTA di masa depan.

Dengan seri GTA dan Max Payne terbaru yang sudah meluncur ke pasaran, Rockstar memang kini lebih berfokus untuk menghidupkan kembali franchise-franchise andalannya di masa lalu. A new next-gen sequel for Bully? Considered it sold, Rockstar!

NVIDIA Kembali Tegaskan Konsol Tak Bisa Kalahkan PC




nvidia

Dengan dominasi sang kompetitor yang memperkuat hampir semua konsol next-gen yang hadir di masa depan, NVIDIA tampaknya tetap bertahan dengan satu pesan yang kuat – PC dan mobile. Pesan yang satu ini terus dilancarkan untuk memastikan eksistensi, bahkan lewat beragam informasi yang tentu saja sudah menjadi pengetahuan umum. Sebagai platform dinamis yang bisa dibangun sesuai dengan kebutuhan si pemilik, PC tentu memiliki potensi yang sangat besar untuk mengalahkan dan menundukkan performa konsol, termasuk generasi selanjutnya. Sebuah pesan yang kembali digalakkan oleh salah satu eksekutif NVIDIA – Tony Tamasi.

Dalam wawancaranya dengan PC PowerPlay, Tamasi kembali menegaskan bahwa hampir tidak mungkin lagi bagi konsol gaming untuk tampil lebih baik dan kuat dibandingkan dengan PC. Investasi lebih dari USD 1,5 Milyar yang digelontorkan NVIDIA setiap tahun menjadi jaminan bahwa teknologi grafis PC akan selalu terdepan. Tidak hanya itu saja, NVIDIA juga menyoroti keterbatasan power supply konsol  yang tidak akan dapat memfasilitasi kebutuhan performa yang lebih besar. Walaupun ia juga mengakui kemampuan Playstation 4 dan Xbox One untuk menghasilkan kualitas sekelas PC, setidaknya saat ini. Namun Tamasi percaya bahwa dalam beberapa tahun ke depan, konsol akan kian terlihat lemah dan lambat, sementara PC terus berkembang pesat.

Tony Tamasi dari NVIDIA menegaskan bahwa tidak ada kemungkinan bahwa konsol akan mampu tampil lebih baik dan cepat dibandingkan PC lagi.
 Tony Tamasi dari NVIDIA menegaskan bahwa tidak ada kemungkinan bahwa konsol akan mampu tampil lebih baik dan cepat dibandingkan PC lagi.

Bagaimana menurut Anda sendiri? Menurut kami, Tamasi seolah lupa bahwa alasan gamer membeli sebuah platform tidak hanya selalu ditentukan oleh seberapa kuat performa yang ia tawarkan jika dibandingkan dengan yang lain. Karena pada akhirnya akan gamer akan menentukan keputusan dari jajaran game eksklusif dan fitur unik apa saja yang ditawarkan. It’s not all about power, Mr. Tamasi..

AMD unveils Radeon R9 and R7 series video cards, unifying graphics code for PCs and consoles

 Graphics cards aren't normally our go-to choices for audio processing, but we may have to make exceptions for AMD's just-unveiled Radeon R9 and R7 lines. The R9 290X (shown above), R9 290 and R7 260X (after the break) will support TrueAudio, a new programmable pipeline that enables advanced audio effects without burdening a PC's main processor or a dedicated sound card. Not that the range will be lacking in visual prowess, of course. While the company isn't revealing full specifications, it claims that the R9 290X flagship will have five teraflops of total computing power versus the four teraflops of the previous generation. The boards will ship sometime in the "near future," with prices ranging from $89 for an entry R7 250 to $299 for the mid-tier R9 280X. AMD isn't divulging the R9 290X's price, but pre-orders for the card will start on October 3rd.

The firm has also revealed a new programming interface, Mantle, that makes the most of the Graphics Core Next architecture found in many of its recent processors and video chipsets. Developers who build the low-level code into their games should get better performance from GCN-based devices without having to re-optimize for each platform -- a title meant for Radeon-equipped PCs should still behave well on a PlayStation 4 or Xbox One, for instance. Mantle will debut on Windows through a December update to Battlefield 4, and should spread to other platforms in the months ahead.


AMD Radeon R9 and R7 Series Graphics Cards Usher in a New Era of Gaming Realism

Ultra-resolution gaming, astonishing audio and bare metal performance optimization become reality with introduction of AMD Radeon R9 and R7 Series of GPUs, AMD TrueAudio technology and Mantle

SUNNYVALE, Calif. -9/25/2013

AMD (NYSE: AMD) today unveiled the AMD Radeon™ R9 290X, R9 290, R9 280X, R9 270X, R7 260X and R7 250 graphics cards, AMD's first GPUs in a new era of gaming defined by UltraHD displays, renewed vigor in game engine development, and a new generation of gamers that expect a more immersive entertainment experience. AMD also introduced the world to Mantle and AMD TrueAudio technology, the latest innovations that redefine the GPU by enabling both gamers and game developers with unprecedented audio and performance enhancements for compatible games1,2.

"The AMD Radeon R9 and R7 Series graphics cards are new GPUs for a new era in gaming," said Matt Skynner, corporate vice president and general manager, Graphics Business Unit, AMD. "This era is shaped by ultra-resolution gaming and an exciting new generation of highly-anticipated games like 'Battlefield™ 4.' But it's also an era shaped in a very powerful way by our own Unified Gaming Strategy; we've teamed up with the world's top game developers to establish a comprehensive portfolio of games that you can maximize to their full potential only with AMD Radeon™ graphics.

Mantle and Graphics Core Next: Simplifying Cross-Platform Game Development
The award-winning Graphics Core Next (GCN) architecture in the AMD Radeon R9 and R7 Series graphics cards continues to serve as a driving force behind the Unified Gaming Strategy, AMD's approach to providing a consistent gaming experience on the PC, in the living room or over the cloud - all powered by AMD Radeon graphics found in AMD graphics cards and accelerated processing units (APUs). The four pillars of the Unified Gaming Strategy - console, cloud, content and client - come together with the introduction of Mantle.

With Mantle, games like DICE's "Battlefield 4" will be empowered with the ability to speak the native language of the Graphics Core Next architecture, presenting a deeper level of hardware optimization no other graphics card manufacturer can match. Mantle also assists game developers in bringing games to life on multiple platforms by leveraging the commonalities between GCN-powered PCs and consoles for a simple game development process.

With the introduction of Mantle, AMD solidifies its position as the leading provider of fast and efficient game development platforms. Mantle will be detailed further at the AMD Developer Summit, APU13, taking place Nov. 11-13 in San Jose, Calif.
AMD TrueAudio Technology: World's First Programmable Audio Pipeline
AMD TrueAudio technology marks a new frontier in realism for PC gamers.

 AMD TrueAudio technology empowers game developers with a programmable audio pipeline on the GPU, inviting them to put their unique artistic fingerprint on in-game audio in the same way that the programmable graphics pipeline brought unfettered artistic vision to PC graphics. Enabled games can feature more realistic environmental dynamics, a richer tapestry of sound effects, breathtaking directional audio and more.

AMD TrueAudio technology enhances audio realism by simulating the human brain's perception of real-world sound, working in concert with the user's existing audio hardware to recreate a lifelike experience in upcoming games like "THIEF™" by Square Enix or "Lichdom" by Xaviant Games.
AMD Multi-Display Technology: Redesigned for Ultra-resolution Gaming
The arrival of the next-generation AMD Radeon graphics cards also marks a new chapter in AMD's historic support for stunning display configurations. AMD Radeon R9 and R7 Series graphics cards are made for gaming on UltraHD (3840x2160) displays, including support for non-tiled 2160p60 displays with a future AMD Catalyst™ driver release. In addition, gamers more accustomed to AMD Eyefinity multi-display technology will be freed to use virtually any combination of display outputs when connecting matching monitors to the DVI or HDMI® outputs on their system.

AMD Radeon R9 and R7 Series graphics cards will be available for purchase in the near future.

Wednesday, 25 September 2013

Menikmati Pantai Nemberala di Timur Indonesia

Nemberala dan surfing adalah pasangan yang serasi. Coba saja ketik ‘Nemberala’ pada search engine di internet, anda akan temukan ratusan link yang berhubungan dengan kegiatan surfing / berselancar. Wow.. I just feel so lucky to be here!

Pantai Nemberala, Rote. (Foto: Arinta)

Desa kecil yang terletak di sebelah barat daya Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur ini memiliki kawasan pantai dengan karakteristik gulungan ombak yang mampu memompa adrenalin jiwa-jiwa challenger penggemar selancar. Turnamen surfing bertaraf internasional pun menjadi agenda rutin tahunan yang mampu menarik datangnya peselancar asing untuk menjajal kemampuannya menari di atas ombak pantai Nemberala.

Beningnya air di pantai Nemberala. (Foto: Arinta)

Bulan September merupakan musim ombak yang paling bagus sehingga biasanya aktivitas pariwisata di Nemberala lebih semarak dibanding bulan-bulan yang lain. Provider surfing saling berlomba menawarkan paket liburan olah raga air, penginapan sudah dipastikan fully booked, bahkan rental kendaraan pun harus menolak orderan karena armadanya sudah habis disewa pengunjung.
Saya berkunjung ke Nemberala bukan di musim yang tepat. Meski belum bisa membuktikan ombak Nemberala yang tersohor itu, saya tetap bisa menikmati pesona lain dari tempat istimewa ini.

Menuju Nemberala

Untuk sampai di Desa Nemberala, dari Kupang saya harus menyeberang ke Baa, ibu kota Kabupaten Rote Ndao. Baru kemudian melanjutkan perjalanan darat dengan mobil. Ada dua alternatif penyeberangan laut dari Kupang ke Baa, yaitu dengan menggunakan kapal feri ASDP atau kapal cepat yang bertolak dari pelabuhan Tenau – Kupang.

Saya memilih menggunakan kapal cepat Bahari Express dengan pertimbangan lebih hemat waktu. Hanya perlu waktu 2 jam menyeberang ke Baa dibandingkan menggunakan kapal feri dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Tidak ada keterlambatan pemberangkatan dari Kupang. Kapal berangkat sesuai jadwal, pukul 09.00 WITA. Dengan tiket VIP seharga Rp160.000 saya mendapat kenyamanan ruang ber-AC, TV layar lebar yang waktu itu memutar film karate, kudapan pengganjal perut, dan yang paling penting goyangan ombak tidak terlalu berasa sehingga terbebas dari mabuk laut.

Perjalanan ke pulau Rote memang melewati perairan yang merupakan pertemuan arus samudera Hindia, laut Sawu dan laut Timor. Selama perjalanan akan ada guncangan yang cukup sering dan besar yang terasa dari atas kapal sehingga bisa memicu mabuk laut bagi yang tidak tahan. Penyeberangan Kupang-Rote sangat tergantung pada kondisi arus pertemuan tersebut dan juga cuaca, bila tidak memungkinkan biasanya penyeberangan ditutup sementara untuk alasan keselamatan.

Tepat pukul 11.00 WITA  kapal tiba di pelabuhan Baa. Tampak penumpang, penjemput, dan porter lalu lalang. Porter di pelabuhan Baa cukup unik karena mereka menggunakan gerobak kayu untuk membantu mengangkut koper dan barang-barang lain. Di luar jembatan dermaga tepatnya di area parkiran, sudah tampak berjajar antrean angkutan pedesaan yang oleh penduduk lokal disebut dolo rossa.

Can we share the taxi?” tanya seorang lelaki bule kepada saya. Dengan menggunakan dolo rossa yang saya sewa patungan bersama dengan Tom, bule asal Australia itu, kami menempuh perjalanan selama 1 jam 20 menit untuk sampai di desa Nemberala. Selama perjalanan, Tom banyak bercerita mengenai Nemberala, baik pantainya, aktivitas surfing, info hotel maupun tempat makan yang tersedia di sana. Bahkan ia juga hafal jadwal operasional suatu tempat makan yang memang tidak banyak tersedia di Nemberala.

Para nelayan menjaring ikan-ikan kecil. Gerak-gerik mereka seperti tarian indah. (Foto: Arinta)
Para nelayan menjaring ikan-ikan kecil. Gerak-gerik mereka seperti tarian indah.

Rupanya Tom sudah begitu mengenal baik area Rote, khususnya Nemberala. Tenyata sudah sejak 8 tahun yang lalu, ia sering bolak balik Australia-Rote dengan periode kunjungan yang cukup lama. Bahkan saat ini ia juga mendirikan cottage pribadi di tepi pantai demi kecintaannya pada ombak Nemberala dan surfing. Kawan-kawan Tom dari komunitas pecinta surfing kabarnya juga sering berkunjung ke Nemberala karena terpikat dengan gulungan ombaknya. Setelah beberapa lama perjalanan, Tom sudah lebih dulu tiba di cottage-nya. Sebelum turun dari mobil, ia berpamitan dan menjabat tangan saya seraya berkata “I just feel so lucky to be here” dengan mata yang berbinar-binar. Wiiiih, saya jadi semakin antusias dengan Nemberala.

Butiran pasir di Pantai Nemberala, mirip merica. (Foto: Arinta)
Butiran pasir di Pantai Nemberala, mirip merica. 

Jalanan yang sedang diperbaiki dan berdebu siang itu tidak menyurutkan semangat saya untuk bersenang-senang di pantai Nemberala. Dari halaman belakang penginapan saya saja,  sudah bisa melihat pemandangan laut dengan garis pantai yang panjang.  Banyak pohon kelapa di sisi-sisinya, air tampak bening dan biru berkilauan diterpa sinar matahari, serta pasirnya putih dengan butiran mirip merica. Hmm, tidak salah memang bila banyak hati yang tertambat oleh keindahan alam yang ada, seperti layaknya Tom.

Nemberala yang indah

Penginapan di Nemberala kebanyakan berupa resort dan homestay dengan harga sewa yang bervariasi mulai dari yang murah meriah sampai dengan yang dipatok harga ratusan dollar per malam. Selain kamar, rata-rata penginapan di Nemberala sudah sekaligus menyediakan makan 3 kali sehari dengan menu yang bervariasi dan enak di lidah saya yang memang doyan makan.

Anak-anak bermain lepas di Pantai Nemberala. (Foto: Arinta)
Anak-anak bermain lepas di Pantai Nemberala.

Menu makan siang itu ialah kerapu kukus yang terasa segar.  Usai makan di penginapan, siang itu saya menghabiskan waktu untuk memanjakan mata dan jiwa dengan menikmati alam pantai Nemberala. Tidak jauh dari saya berdiri, anak-anak kecil terlihat saling memamerkan kebolehan lompat indah dari atas kapal dan beradu renang. Senang rasanya melihat mereka, kebahagiaan yang sederhana. Tiba-tiba saya mendengar suara air berkecipuk dan melihat ada beberapa nelayan yang sedang menari-nari membuat riak-riak di perairan yang tidak terlalu dalam. Rupanya mereka sedang berusaha menggiring ikan-ikan kecil untuk masuk ke dalam jala yang sudah ditebar sebelumnya. Unik, membuat saya juga ingin menari-nari di atas air, apalagi para nelayan itu juga mengeluarkan suara-suara khusus yang beradu dengan riak air, seperti nyanyian pemanggil ikan. Saat senja tiba, langit berubah dramatis, perlahan putih biru digantikan dengan semburat merah kekuningan. Maha besar Allah atas semua kuasany.

Petani rumput laut saat senja di Nemberala. (Foto: Arinta)
Petani rumput laut saat senja di Nemberala.

Karena tidak sedang musim ombak, maka tidak banyak orang yang berselancar. Senja itu hanya terlihat beberapa anak lokal yang berjalan ke tengah laut yang tengah surut sambil membawa papan surfing untuk mencari ombak yang lebih tinggi. Sementara itu, beberapa warga terlihat sibuk memanen rumput laut yang memang dibudidayakan di sekitar pantai yang sore itu surut. Pasirnya tampak membentuk gundukan seperti parit-parit kecil yang dialiri air. Di sudut lain, karena listrik baru menyala jam 6 malam, beberapa warga terlihat menghabiskan waktu untuk bercengkerama menikmati suasana, ada pula yang menyanyi bersama sampai matahari menghilang di ufuk barat. Sore itu kami sama-sama menyesapi lukisan Tuhan yang begitu indah di Nemberala. I just feel so lucky to be here, bisik saya.


Travelling ke Kota Tambang Sawahlunto

Siapa tak kenal Sawahlunto? Sejak saya masih duduk di bangku SD, nama Sawahlunto sudah terkenal sebagai daerah penghasil batubara terbesar di Indonesia.
Tetapi itu sudah lama sekali. Sekarang Sawahlunto berubah haluan, dari sebuah daerah tambang batu bara menjadi objek wisata tambang yang menarik.

Rumah Pek Sin Kek

Rumah milik pengusaha sukses Tionghoa ini dibangun pada tahun 1906. Ketika itu, Pek Sin Kek bermukim dan membangun tempat usaha di pusat kota Sawahlunto.
Sejarah dibalik Rumah Pek Sin Kek, yakni di masa lalu tempat tersebut pernah dipakai sebagai Gedung Teater, tempat Perhimpunan Masyarakat Melayu, dan pabrik es.
Usai diremajakan pada 2005-2006, Rumah Pek Sin Kek berubah menjadi toko suvenir. Di tempat tersebut, wisatawan bisa belanja oleh-oleh sambil menikmati kekhasan arsitektur rumah tersebut.
Lokasi Rumah Pek Sin Kek tidak jauh dari pasar di Kota Sawahlunto dan mudah sekali dikenali. Sebelum berkunjung ke Rumah Pek Sin Kek, saya sempat mencari kuliner khas kota tambang di pasar tradisional tersebut.

Gedung Pusat Kebudayaan. Foto: Romelos
Gedung Pusat Kebudayaan. 

Gedung Pusat Kebudayaan

Dikenal dengan nama Gluck Auf, bangunan seluas 870 meter persegi yang berdiri di Sawahlunto sejak 1910 tersebut dulunya berfungsi sebagai gedung pertemuan alias Gedung Societeit. Gedung ini sempat juga dijuluki Rumah Bola, sebab di sana para pejabat tambang Belanda biasa main bowling dan biliar.
Pada 1 Desember 2006, Gluck Auf diremajakan dan berfungsi sebagai Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto.
Lokasi Gedung Pusat Kebudayaan tidak jauh dari Rumah Pek Sin Kek dan sejurusan dengan pusat kota. Puas mengambil foto di seputaran Gedung Pusat Kebudayaan, saya meneruskan perjalanan ke lokasi berikutnya. Yakni lubang tambang Mbah Soero.

Lubang Mbah Soero

Ini dia lubang tambang yang terkenal di Sawahlunto. Untuk masuk ke sana, pengunjung wajib mendaftar dan membeli tiket di Gedung Info Box. Pada tahun 1947, Gedung Info Box adalah Gedung Pertemuan Buruh dan berbagai aktivitas digelar di sana. Mulai dari pertemuan karyawan hingga hiburan wayang kulit dan pemutaran layar tancep seusai gajian. Sekarang, gedung tersebut berfungsi sebagai pusat informasi wisata ke lubang tambang Mbah Soero. 
Helm dan sepatu safety sudah terpasang dengan sempurna, petualangan turun ke lubang Mbah Soero pun dimulai. Pemandu memberi tahu saya tentang hal-hal yang akan dijumpai di dalam dan beberapa aturan dan pantangan yang harus dipatuhi. Hemmm ….
Lubang tambang Mbah Soero adalah lubang pertama yang dibuka pada 1898. Lubang tersebut dinamakan demikian sebab dulunya yang mengawasi adalah Mandor Soero. Ia disegani oleh buruh dan masyarakat sekitar.
Karena nilai sejarahnya tinggi, mulai 2007 lubang tambang tersebut terbuka untuk wisatawan. Selain itu, ada pula galeri foto dan pemutaran film tentang sejarah tambang. Di akhir kunjungan, wisatawan yang berkunjung akan memperoleh sertifikat.

Gudang Ransum

Lokasinya tidak jauh dari lubang tambang Mbah Soero. Saya berusaha menahan perut yang sudah keroncongan demi mengikuti tur singkat di Gudang Ransum.
Kompleks Gudang Ransum rapi, bersih, dan layak untuk dikunjungi. Dulunya, Gudang Ransum adalah dapur umum yang dibangun pemerintah kolonial Belanda. Dibangun pada 1918, dapur tersebut bertugas menyiapkan makanan bagi pekerja tambang batu bara dan pasien rumah sakit.
Pada awal tur, saya disuguhi video singkat tentang kompleks tersebut. Di dalam Gudang Ransum, wisatawan masih bisa melihat ketel pemanas peninggalan masa lampau. Ada juga foto-foto dan peninggalan lain yang tersusun rapi dan dilengkapi keterangan yang sangat informatif.
Selain ada Gudang Ransum, di kompleks yang sama juga terdapat Galeri Etnografi yang menyimpan informasi tentang tradisi, pakaian, makanan, dan gaya hidup masyarakat di Sawahlunto. Dan, sempatkan juga berkunjung ke Galeri Malaka – yang menyimpan sejarah dan informasi pariwisata tentang Malaka – dan IPTEK Centre.

Museum Kereta Api. Foto: Romelos
Museum Kereta Api. 

Museum Kereta Api

Selepas makan siang, saya berkunjung ke Museum Kereta Api yang terletak di atas Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto.
Museum ini menyatu dengan stasiun kereta api yang masih beroperasi hingga saat ini. Sebuah peta wisata berukuran besar terpampang di salah satu dinding stasiun. Umbul-umbul warna-warni yang memuat informasi wisata juga tampak menjuntai dari plafon stasiun. Seonggok mesin tua tergeletak di hadapan, menambah kesan tua pada stasiun tersebut.
Museum Kereta Api dulunya adalah stasiun kereta yang dibangun Belanda pada 1918. Stasiun tersebut jadi saksi bisu eksploitasi mutiara hitam dari perut Sawahlunto. Dengan lokomotif uap, batubara diangkut menuju Pelabuhan Teluk Bayur (Emmahaven) mulai tahun 1894.
Stasiun berdiri dari hasil kerja paksa orang-orang jajahan pada masa itu, atau dikenal dengan nama orang rantai. Pada bagian dalam museum ada banyak literatur, foto, dan peninggalan alat kereta api yang digunakan pada masa lampau. Umurnya sudah lebih dari 100 tahun.
Saat saya berkunjung ke sana, Mak Itam – salah satu lokomotif yang dipakai untuk wisata keliling Sawahlunto – dikandangkan dalam hanggar karena sedang masuk perawatan. Gagal impian berkeliling Sawahlunto dengan Mak Itam. Suatu saat mungkin mimpi itu terwujud, ya suatu saat.

Satwa di Resort Kandi. Foto: Romelos
Satwa di Resort Kandi. 

Taman Satwa Kandi

Selain menikmati sejarah tambang, di Sawahlunto wisatawan juga bisa berkunjung ke Taman Satwa Kandi atau Resort Kandi. Berjarak sekitar 14 kilometer ke luar kota, saya bergegas menuju lokasi. Sebab, Resort Kandi biasa tutup pukul 17.00. Beberapa satwa yang ada bukan satwa asli Indonesia, contohnya kanguru.
Beberapa satwa di sana kelihatan menyedihkan. Dari rautnya tampak kesepian, mudah-mudahan ini tidak berlangsung lama. Selain koleksi satwa yang tersebar di beberapa area, di lokasi tersebut terdapat juga Danau Tandikek. Wisatawan bisa memanfaatkan wahana permainan air yang disediakan pengelola. Seperti perahu naga, banana boat, dan sepeda air.

Silo. Foto: Romelos
Silo.

Silo

Kembali ke pusat kota, perjalanan saya berlanjut ke Silo. Bangunan yang terdiri atas tiga silinder besar yang menjulang tinggi tersebut adalah simbol kejayaan Kota Sawahlunto di masa lalu. Silo adalah tempat penyimpanan batubara. Masing-masing terhubung dengan sebuah conveyor dan berakhir di sebuat pit pengumpulan.
Sekarang Silo tidak digunakan lagi dan dijadikan landmark Kota Sawahlunto. Kunjungan ke Silo menutup hari di Kota Sawahlunto. Sebenarnya masih banyak atraksi lain yang dapat dikunjungi, antara lain Masjid Agung, Gedung Koperasi Ombilin, dan Gereja St Barbara. Tetapi saya terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan dan memutuskan kembali ke penginapan. Suatu saat, saya ingin kembali lagi ke Kota Sawahlunto untuk menyelesaikan PR yang tertunda.