Selamat Datang ,Dan Selamat Membaca, Enjoyy :)
Showing posts with label ACHIEVEMENTS. Show all posts
Showing posts with label ACHIEVEMENTS. Show all posts

Tuesday, 11 January 2011

Jay Subiyakto Ingin Panggung Indonesia Berkibar di Dunia


(TGC-Achievements) Perasaan cepat bosan menjadikan Agara Wijaya Subiyakto atau yang akrab disapa Jay Subiyakto selalu ingin sesuatu yang baru lagi. Otaknya yang penuh dengan ide brillian, ingin selalu menghadirkan pertunjukkan yang menarik untuk dilihat. Jay memiliki satu mimpi, agar hadir lebih banyak lagi orang-orang seni yang bisa membawa pentas Indonesia melewati putaran dunia.


Sore itu, jay terlihat tergesa melangkahkan kakinya menuju pintu luar Teater Jakarta, yang terlletak di Taman Ismail Marzuki. Ketika diajak berbincang, Jay terlihat santai. Namun pikirannya melayang pada konsep artistik yang digarapnya dalam pertunjukkan tersebut.

Ketika itu, Jay sedang sibuk mempersiapkan beberapa set panggung untuk drama musical Laskar Pelangi. Di sana, ia ditunjuk sebagai Artistic Director.

Dengan pakaian serba hitam dan rambut tergerai, ia mempersilakan Vibizlife untuk masuk dan ngobrol banyak mengenai kecintaanya terhadap dunia kesenian di Indonesia.

“Kesulitan terbesarnya adalah saya harus menerjemahkan film ke dalam drama musical, yang langsung bisa dilihat orang. tapi akhirnya dengan pergantian hampir 12 set, respon penonton ternyata bagus sekali.” tutur Jay membuka sua kami.



8 tahun perang dingin dengan ayah

Kesuksesan Jay ternyata tak semulus jalan tol yang bebas hambatan. Berbagai kerikil tajam kerap mampir dalam kehidupannya.

Jika menengok ke belakang, Jay sempat menelan pil pahit karena idealisme karirnya harus ditentang sang ayah, R. Subiyakto yang amat dicintainya.

Lulus kuliah jurusan Desain Arsitektur dari Universitas Indonesia tahun 1987, Jay menolak keinginan ayah yang megnharapkan dirinya untuk sekolah lagi mengambil jurusan bisnis.

“Saya nggak mau, karena saya nggak bisa dagang. Buat apa buang uang, kalau saya menjalani sesuatu yang tidak saya suka. “ katanya ketika itu.

Akhirnya Jay dan ayah harus diam-diam an sekitar 8 tahun lamanya. Bukan hanya itu, Jay mengambil kuliah di jurusan arsitektur, hanyalah untuk menyenangkan hati sang ayah yang menginginkan anaknya menjadi insinyur.

“Pokoknya dia kecewa kenapa saya tidak jadi arsitek, walaupun saya kasih tahu kendalanya.” Kata Jay.

Menurut Jay, ketika dirinya lulus, arsitek Indonesia tidak dihargai oleh bangsanya sendiri. Semua gedung-gedung tinggi dibangun oleh arsitek luar. Dan itu bukan merupakan arsitek yang bagus. Akhirnya ia memilih untuk tidak menekuni itu.

Namun seiring berjalannya waktu, Jay kemudian bisa membuktikan keinginan terdalamnya untuk terjun di dunia seni, walaupun harus ditentang ayahnya.

Tahun 1994, Jay bersama Erwin Gutawa membuat sebuah terobosan yang belum pernah dilakukan oleh orang Indonesia. Ia membuat konser tunggal yang menghadirkan penyanyi local. Di zaman itu, banyak promoter menghadirkan konser-konser penyanyi luar.

“Saya kemudian berpikir, kenapa ya nggak ada yang mau menghadirkan penyanyi Indoensia. Akhirnya saya coba untuk membuat konser Chrisye. “

Walaupun banyak kendala, seperti cibiran banyak orang yang mengatakan,alm. Chrisye yang tak bisa berinteraksi dan bergaya di panggung, maka tidak aka nada yang mau menonton konsernya nanti, suami dari Elvara Jandini itu cuek saja.

Ia tetap menggarap konsep tersebut bersama Erwin. Tanpa diduga, tiketnya habis terjual. Alm Chrisye pun menjadi satu-satunya penyanyi yang mengadakan 3 kali konser tunggal di Jakarta Convention Centre.

Semenjak itu, tawaran makin mengalir deras kepada dirinya. Jay kemudian berada di balik megahnya konser Anggun, Rossa, D3VA, Ruth Sahananya, hingga Rockestra.

Dari situlah, hubungan dengan sang ayah mulai mencair. Akhirnya ayah Jay bisa menerima keinginanya untuk menjadi pekerja seni.

“Saya ini pengangguran”

Sebelum menjadi artistic director, Jay lebih dikenal sebagai sutradara. Banyak penyanyi mempercayakan video klipnya digarap olehnya. Beberapa diantaranya adalah Agnes Monica dan Bunga Citra Lestari.

Ayah dari Kaja Anjali tersebut juga banyak dipercaya sebagai director pagelaran konser para penyanyi yang ingin menyuguhkan konser tunggal.

Dalam konser tersebut, pekerjaan Jay ialah mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan konser di atas panggung supaya terlihat menarik.Mulai dari tata panggung, tata cahaya, hingga koreografi.

Selain itu, hobi fotografinya juga ia salurkan untuk menjadi konsultan fotografi di Majalah Harpers Bazaar Indonesia.

Beragam profesi dijalaninya. Ketika ditanya ingin fokus pada pekerjaan yang mana, Jay dengan santai menjawab, “ Saya bosan melakukan sesuatu yang sama, karena itu saya selalu ingin tantangan baru. Kalau ditanya apa profesi saya, sepertinya saya ini pengangguran. Nggak jelas.” Katanya sambil terbahak.

Jay lebih suka profesinya disebut sebagai pekerja seni. Dengan menjadi pekerja seni, apapun bisa dilakoninya. Mulai dari dunia fotografi hingga sinematografi.



“Saya belum sukses”

Tak hanya menyuguhkan rangkaian konser para penyanyi tanah air, Jay yang sangat cinta dengan Indonesia, ingin mengangkat budaya Indonesia bisa melaju ke pentas internasional.

Hal tersebut nampaknya sudah mulai dilakoninya. Ia membawa pementasan Matah Ati, yang bercerita tentang pertunjukkan wayang orang yang dikemas begitu cemerlang menuju berbagai negara.

Pertunjukkan itu mendapat sambutan yang cemerlang di Explenade Singapore. Tiketnya lagi-lagi sold out. Rencananya bulan Maret nanti, ia akan menggelar pertunjukkan tersebut keliling ke 11 negara.

“Indonesia itu maha dahsyat dengan segala ide dan kebudayaannya. Pertunjukkan Matah Ati bisa berhasil di Singapore, karena saya menyajikan apa yang menjadi budaya dan sejarah kita. Wayang Orang itu kan budaya kita. Kalau kita menyadari, dan mengemasnya dengan menarik, karya kita pasti akan diapreiasi. “ jelas Jay.

Tetapi yang menjadi hambatan, seringkali masyarakat Indonesia tidak menyadari hal tersebut. Kemudian, pengaruh-pengaruh luar menjadikan Indonesia kehilangan jati dirnya.

“Kalau saya menyajikan wayang orang ini di Indoensia, terus terang saja nggak akan laku. Tetapi karena biasanya bangsa ini lebih mengapresiasi pertunjukkan yang lebih dulu sukses di luar negeri,
karena itulah saya melakukan hal tersebut.” Katanya ketika ditannya mengenai alasan menyajikan Wayang Orang di negeri seberang.

Atas segala kesuksan yang diraihnya di belakang panggung, pria berkulit putih ini belum merasa sukses. Masih banyak lagi impian yang ingin diraihnya.

“Kalau kesuksesan itu kan orang lain yang menilai. Saya sendiri belum merasa sukses. Yang penting saya memberikan yang terbaik saja tentang seni dan budaya kita, sehingga akhirnya banyak generasi muda yang mendalami tradisi kita.” Katanya mengenai kesuksesannya.

Jay juga berharap ke depannya, akan lahir lagi sutradara baru di dunia pertunjukkan dan film. “Saya sih sudah tidak berambisi lagi. Yang terpenting ada generasi muda yang bisa meneruskan karir saya. “ katanya.

Anjing mengongong khafilah tetap berlalu. Mungkin itulah falsafah yang dianut oleh Jay Subiyalto dalam menjalani karir nya sebagai pekerja seni yang sukses di Indonesia.

Berbagai pertentangan yang terjadi untuk membesarkan keinginannya, ternyata tidaklah sia-sia. Semuanya bisa tercapai dengan berbagai usaha dan kemauan yang keras.

Delia 'Ecoutez' si Workaholic Penuh Prestasi


(TGC-Achievemenets) Siapa bilang menjadi anak seorang musisi itu serba enak? Delia, vokalis grup band Ecoutez malah mengalami beribu kesulitan untuk melebur dengan para musisi jazz ketika ia beranjak dewasa. Hal inilah yang membuat Delia sadar bahwa kesuksesan yang diraihnya begitu penuh perjuangan. Wanita bertubuh langsing ini pun lancar menceritakan kisah suksesnya kepada TGC NEWS.

Sore itu, Delia terlihat sedikit lelah. Namun ia tetap semangat melayani para pembeli yang ingin mampir ke stand pakaian koleksinya.

Delia ketika itu sedang mengikuti acara bazaar di sebuah pusat perbelanjaan seputar Jakarta Selatan. Padahal, malamnya ia juga kudu bersiap untuk bernyanyi mengisi sebuah acara.

Namun, mantan penyanyi cilik itu tak takut lelah. Ia bahkan menyempatkan diri untuk ngobrol santai dengan awak TGC.

“Aku nggak pernah merasa capek, padahal sebetulnya badanku capek banget. Tapi aku senang.” Katanya membuka perbincangan sore itu.

Delia memang sibuk. Jadwalnya bejibun tak hanya di kancah musik saja.Ia juga harus menyempatkan idri untuk menjadi presenter. Belum lagi mengurus butik nya yang terletak di wilayah Jakarta Timur. Namun semuanya ia jalani dengan happy. Sehingga rasa lelah yang menghimpitnya langsung sirna ketika ia melakukan pekerjaannya.

Berat sandang nama papa



Delia kecil amat senang bernyanyi. Ia kerap mengikuti lomba menyanyi tingkat nasional.Ketika berusia enam tahun, ia lantas ditawari menyanyi oleh sang ayah, Mamo Agil, yang ketika itu berprofesi sebagai musisi dan produser.

Ia lalu bergabung dengan Trio Laris. Laginya, Ular Putih sempat menjadi hits di era 90-an. 18 album anak-anaknya ketika itu sempat mendapatkan penghargaan sebagai penyanyi cilik paling produktif dari HDX Award.

Menginjak kelas 5 dan 6 SD, Delia mencicipi dunia presenter. Ia didapuk sebagai host acara anak-anak bertitel Klak-Klik.

Beranjak ABG, Delia ingin mencicipi bidang lainnya. Ia mulai vakum jadi penyanyi. Delia lalu mencoba dunia modelling, dengan menjadi model majalah remaja.

“Aku sempat jalan di catwalk selama dua tahunan.” Katanya.

Ketika SMA, Delia pun merindukan dunia musik yang pernah dicicipinya selagi anak-anak. Delia pun rajin membuat demo, namun selalu ditolak oleh produser.

“Karena nggak pernah diterima oleh produser, aku kemudian bermain sinetron dan jadi presenter.” Katanya. Delia sempat menjadi host Moto GP selama lima tahun di TV 7.

Usai menamatkan pendidikan Diploma III jurusan Public Relation di Inter studi, Jakarta, ia ditawari oleh Levi, salah satu personil The Fly untuk audisi di Ecoutez.

“Materinya sempat ada di aku sebulan. Karena aku pikir aku bukan penyanyi jazz., dan nggak pede untuk menyanyi jazz. Setelah mereka meyakinkan aku bahwa mereka mencari karakter bersuara pop, akhirnya aku tes, dan ternyata cocok. Sampai sekarang deh.” Ceritanya mengenai
band Ecoutez.

Darah seni Delia memang mengalir dari orangtuanya. Tak hanya ayahnya yang terkenal sebagai musisi, sang ibu ternyata adalah penyanyi yang dikenal di kota Palembang, tempat kelahirannya.

Memiliki ayah dan ibu orang berpengaruh di musik membuat Delia berat menyandangnya. Ketika ia beranjak dewasa, cap itu sempat membuatnya ciut.

Alhasil, ketika ia menjajaki dunia modelling, apalagi bernyanyi, tak hanya penyanyi lain yang mencibirnya, namun juga teman-teman dekatnya.

“Delia kan sudah artis dari dulu, makanya ia gampang jadi penyanyi sekarang.” Tuturnya menirukan sindiran teman-temannya.

Apalagi di kalangan jazz, Ecoutez termasuk anak bawang, karena bumbu jazz dan karakter suara pop Delia, membuat beberapa kalangan jazz menolak mereka untuk disejajarkan dengan musisi jazz lainnya.

Irama ringan dan karakter yang selalu dikritik, memang membuat Delia cs merasa ciut. Namun mereka ‘tebal muka’ dan terus menunjukkan kiprahnya di dunia music.

Hasilnya, Ecutez saat ini sudah memiliki fans setia.Mereka mulai dikenal sebagai band pop jazz. Mereka bahkan sempat meraih penghargaan dari Jazz Moment dari Dji Sam Soe.

Partisipasinya untuk melestarikan Pulau Komodo bersama Ecutez juga sempat mendapatkan penghargaan.

Delia seakan ingin membuktikan bahwa dedikasinya sebagai penyanyi, model, dan aktris, bukan semudah membalikkan telapak tangan, namun diraih dengan penuh perjuangan.


Sukses diakui sebagai penyanyi

Sebagai seorang penyanyi, Delia kini cukup merasa lega, bahwa dirinya ternyata sudah mulai diakui oleh khalayak. Namun untuk mencapai kesuksesan berkarir, belumlah klimaks.

“Aku cukup mensyukuri Allah memberi aku jalan seperti ini. Yang membuat aku merasa sukses adalah aku sudah diakui bahwa aku dan Ecoutez adalah penyanyi. Itu sudah cukup membuat aku merasa sukses. “jelasnya.

Namun untuk karir secara keseluruhan, Delia belum puas 100%. Bersama Ecutez, ia ingin mencapai go international. Lagu-lagu Ecoutez pun ingin terjual laris sebagai ring back tone.

“Buat aku sih definisi kesuksesan kalau memang karya aku dan dunia karir aku sudah diterima sama semua orang dan apa yang aku mau sudah tercapai.” Katanya.

Tamu-tamu Delia pun mulai berdatangan. Banyak yang ingin membeli, atau hanya melihat-lihat koleksi busananya. Karena sibuk, saya pun mohon pamit.

Perbincangan kali itu memberikan semangat baru bagi saya. Bahwa perkataan negatif banyak orang, bukan membuat saya semakin terpuruk, namun bisa menjadi pelajaran berharga.

Yuanita Christiani: Success is The Best Achievements


(TGC-Achievements) Dari sosoknya yang pemalu, beranjak dewasa, Yuanita Christiani malah berani bercuap-cuap. Keinginannya untuk menjadi penyiar akhirnya tercapai lewat kerja kerasnya. Kini, ia sukses dikenal sebagai salah satu host ternama di Indonesia.

Meniti karir sebagai seorang presenter nyatanya memberi pembelajaran tersendiri bagi seorang Yuanita Christiani. Eksis bercuap-cuap, Yuanita kini semakin dikenal karena kiprahnya dalam sebuah acara reality show pencarian jodoh di salah satu stasiun televisi.

Dunia yang diawalinya karena iseng semata, malah menjadikan Yuanita kian bersinar hingga saat ini. Bagaikan anak kecil yang sedang belajar bersepeda, Yuanita menitinya dengan penuh perjuangan.

Kritikan pedas yang kerap mampir ke telinganya dianggapnya sebagai sebuah pembelajaran.

Programnya, Take Me Out Indonesia yang diputar di Indosiar nyatanya sukses meraup penghargaan sebagai salah satu acara televisi terfavorit versi Panasonic Award. Acara tersebut masih menempati Rating dan Sharing nomor 1 di ranah pertelevisian Indonesia.

“Sekarang aku sedang tidak begitu sibuk karena kebetulan untuk acara Take Him Out, Take Me out dan Take a Celebrity Out untuk season ini sudah habis. Sekarang masih syuting program infotainment reguler aku, menjadi bintang tamu dan MC off air saja,” katanya ketika ditanya seputar kesibukannya.


Malu-malu kucing


Yuanita adalah anak ke 2 dari 3 bersaudara dari pasangan Hermanto Angkawinata dan Siannie Kheng. Semasa kecil, ia terlahir sebagai anak yang pemalu.

“Orang tua aku sangat menomor satukan pendidikan, sejak kecil kami disuruh mengikuti berbagai kegiatan diluar jam sekolah seperti kursus musik, kursus bahasa inggris, dan beberapa kursus lainnya,” tuturnya mengenai kebiasaan masa kecilnya.

Namun, ketika duduk di bangku SMP, entah kenapa, ia memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang penyiar.

Perkenalannya dengan dunia entertainment juga didapatnya secara otodidak. Beberapa tahun lalu, ia mengantarkan saudara nya untuk mengikuti casting sinetron untuk sebuah acara.

Tetapi, saat itu pula, sang sutradara malah menawari Yuanita untuk mengikuti casting.

Sikap pemalu yang tumbuh dalam dirinya tersebut, lama-kelamaan sirna berkat tekadnya yang berkeinginan menjadi penyiar.

“Awalnya perasaan malu dan tidak percaya diri muncul, tapi aku mau belajar untuk selalu tanggap kepada semua kesempatan yang Tuhan sediakan dalam hidupku, katanya sambil tertawa mengingat kejadian tersebut.

Ikut casting, bukan berarti Yuanita langsung lolos ke acara tersebut. Tetapi tak berapa lama kemudian, sang sutradara menghubunginya bukan untuk menjadi sinetron, melainkan untuk menjadi host.

“Malam itu juga aku dan orangtua diajak untuk mengikuti internal meeting yang mereka lakukan. Tapi ternyata pada akhirnya produser acara itu meminta aku untuk membawakan acara itu selamanya menggantikan host yang lama,” tutur dara kelahiran Jakarta, 14 April 1986 tersebut.

Proyek pertama yang dicicipinya ternyata membuka peluang berikutnya. Awal karir yang dirintisnya dari tahun 2004 membuatnya sadar bahwa tak mudah untuk menjadi seorang entertainer sejati.

Ia masih ingat mendapat honor pertamanya sebesar Rp.100 ribu. “Waktu itu aku kasih ke gereja. Karena aku percaya akan apa yang dinamakan buah sulung, yaitu mempersembahkan gaji pertama kepada Tuhan melalui gereja,” katanya mengenang pendapatan pertamanya.

Sejak itu, Yuanita pun laris ditawari berbagai job. Diantaranya menjadi host untuk program Permak Abis dan Berani Tukeran di Trans TV.

Tahun 2006, ia mulai merambah ke stasiun televisi lainnya, yaitu menjadi host dalam acara Double Espresso di ANTV. Tahun 2007, hingga saat ini, jam terbangnya pun semakin bertambah.

Ia laris menjadi host berbagai tayangan di televise, diantaranya, Was-Was di SCTV, LIga Spanyol di TV One, Techno and Mobile di Metro TV, serta Take Me Out dan Take Him Out Indonesia di Indosiar .

"Success is the best achievements"


Semua yang diraihnya selama ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Yuanita mengakui ini adalah buah kerja kerasnya, dan campur tangan Tuhan.

“Kadang-kadang aku suka kesal kalau aku dinilai sebagai seorang artis instant padahal mereka tidak pernah tahu perjuangan dan pengorbanan apa saja yang sudah aku lakukan hingga bisa sampai berada di posisi sekarang ini. Karirku bisa berkembang sampai sekarang ini? Semuanya adalah proses dari Tuhan, “ curhatnya.

Di balik semua itu, dukungan keluarga dirasa begitu besar dalam melambungkan namanya di dunia entertainment tersebut.Sadar akan hal tersebut, ia tak penah melupakan sosok keluarga yang selalu mendukungnya penuh. Bahkan, Yuanita mempercayakan sang mama untuk menjadi manajernya.

“Saat tidak ada syuting aku habiskan waktu dengan keluarga, dan sudah menjadi sebuah kebiasaan untuk aku untuk tidak menerima pekerjaan apapun bentuknya di momen-momen spesial untuk keluarga kami, seperti momen ulang tahun dan lain-lain.”.

Yuanita selalu merespon positif setiap pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Karena itu, keluarga tercinta hingga detik ini tak pernah complain.

Atas buah kerjanya, ternyata Yuanita masih ingin terus belajar, dan belum merasa sukses. Lantas, sejauh mana sih Yuanita menakar kesuksesannya?

“Sukses itu relatif. Kesuksesan adalah akibat dari kerja keras dan kerja cermat dan kesuksesan adalah titipan Tuhan yang harus aku pertanggungjawabkan,” katanya.

Filosofi kesuksesan lainnya dipegang teguh hingga saat ini, Menurutnya. kehidupan adalah layaknya sebuah sekolah. Ada Tuhan yang bertindak sebagai guru terbaik, kesulitan yang dianggapnya menjadi sebuah tugas sehingga memacunya untuk terus berkarya, kegagalan yang memicunya pada suatu perbaikan, dan akhirnya melahirkan sebuah kesuksesan sebagai suatu penghargaan.

“Life is the best school. God is the Best Teacher. Problem is the best assignment, Failure is the best revision and success is the best achievement, ” demikian filosofinya.

Untuk urusan masa depan, Yuanita memiliki sebuah keinginan, yang tak lain adalah melahirkan sebuah program talkshow layaknya Oprah Winfrey.

“Aku ingin memiliki sebuah acara talk show sendiri seperti Oprah Winfrey dimana tiap episodenya dapat menginspirasi banyak orang,” katanya.

Keinginan lainnya, ia ingin mencoba peruntungan di bidang bisnis, yaitu dengan membuka butik sepatu dengan brand nya sendiri.

Perbincangan singkat itu pun harus berakhir. Namun sebelumnya, Yuanita memberikan tips nya bagi anda yang ingin berkarir menjadi presenter sukses seperti dirinya.

“Jangan mudah menyerah, tanggaplah terhadap semua peluang yang ada karena peluang itu ada dimana-mana, awalilah dan akhirilah kegiatan kita dengan doa,” demikian tipsnya.

Semua peluang yang mampir ke hadapan kita memang sebaiknya diambil dengan bijak. Yuanita memegang teguh prinsip tersebut. Peluang itu nantinya akan menjadi sebuah pijakan karir selanjutnya. Dan jangan pernah melupakan kekuatan sebait doa. Karena doa nantinya akan membuat jalan yang kita tapaki penuh dengan kekuatan dan harapan.